Transparan  News
15 Desember 2017

Dinkes Kota Bekasi, Lindungi Keluarga Dari Difteri dan Cegah Penularannya. 

Saut Manullang

TransparanNews, BEKASI – Sesuai dengan surat Kementrian Kesehatan No SR 02.06/ U / 13SO /2017 tanggal 6 Desember 2017 perihal teknis pelaksanaan ORI, Pemerintah Kota Bekasi segera mengambil langkah pelaksanaan, dengan berkoordinasi antar SKPD terkait, Koordinasi dengan seluruh Puskesmas se-kota Bekasi dan Rumah sakit baik RSUD dan Rumah sakit swasta. Selanjutnya melakukan sosialisasi, mempersiapkan segala kelengkapan administratif, dan teknis pelayanan.

Berdasarkan UU No 4 TH 201984, Permenke-1501 Tahun 2010 dan surat dari Kementrian Kesehatan No SR.02.o6/lt/3140/2017 tgl 6 Desember 2017 perihal penanggulangan kejadian luar biasa, Kota Bekasi merupakan salah satu kota yang dinyatakan mengalami kejadian luar biasa.

“Penanganan kejadian luar biasa ini dilakukan dengan cara immunisasi ulang atau yang dikenal ORI (outbreak Respone lmmunization). Teknis pelaksanaan dilakukan 3 kali pada sasaran yang berusia 1 sd kurang dari 19 tahun, “ujar Kepala Dinas Kesehatan Kota Bekasi Kusnanto. 

Penyakit Difteri adalah penyakit menular potensi wabah yang merupakan infeksi akut disebabkan oleh bakteri vang bernama Coryne bacterium diptheriae (mikroorganisme Gram positif)  yang ditandai dengan pembentukan psedomembran pada mukosa pada mukosa atau kulit dapat menyebabkan komplikasi, Bakteri ini tahan dalam keadaan kering dan beku, namun bisa mati dalam proses pemanasan suhu sekitar 60 derajat celcius. 

“Penyakit ini tersebar luas di seluruh dunia tapi aneka morbiditas cenderung menurun dan penyakit ini umumnya menyerang anak-anak namun orang dewasa bisa juga tertulis, “ujar Kusnanto Kepala Dinas Kesehatan Kota Bekasi kepada Media di Balai Room Humas Pemkot Bekasi Jumat, (15/12). 

Bagian tubuh yang terserang biasanya saluran pernapasan atas, sebagian kasus difteri menginfeksi kulit dan selaput lendir dengan gejala terbentuknya lapisan pada selaput lendir dibagian saluran napas dan pada kondisi parah bisa saja adanya kerusakan pada bagan otot jantung dan system saraf,pungkasnya.

Tingkatan keparahan penyakit difteri ada 3 level yaitu Infeksi ringan terjadi ikan penyerangan hanya pada daerah hidung yaitu, pada bagian mukosa dengan gejala nyeri ketika digunakan untuk menelan. Infeksi sedang ditandai dengan gejala pembengkakan pada laring.

Infeksi sedang menyerang didaerah yang sudah tebih dalam dari infeksi ringan yaitu di daerah bagian faring (dinding belakang rongga mulut).Infeksi berat merupakan infeksi yang sudah mempunyai beberapa gejala yang parah seperti nafas tersumbat dan terjadi gejala komplikasi seperti radang otot jantung kelemahan anggota gerak dan radang ginjal,terang Kusnanto. 

Penularan penyakit dapat terjadi melalui secret yang berasal dari penderita atau carriernya karena manusia merupakan reservoir utama yang ditularkan melalui droplet (batuk, bersin,berbicara pada saat kontak penderita), Masa inkubasi 2.5 hari dengan atau tanpa gejala berat/fatal tergantung pada imunitas penderita, tingkat virulensi atau toksigenitasc diphteriae yang menyerang, lokasi penyakit, anatomi, umur dan penyakit sistemik penyerta. 

Tindakan penanganan kasus dilakukan dengan kondisi penyakit, dan dilakukan sesuai tatalaksana penanganan kaius dfteri, Sedangkan penanganan penyebaran atau epidemiologi dilakukan dengan cara (1) isolasi ketat, (2) tatalaksana kontak untuk mencegah penyebaran untuk dewasa identifkasi sumber penularan dan obati jika perlu dilakukan kultur.

Pada anak atau saudara dari pasien,  kita harus mengamati jika dalam masa indikasi khususnya untuk penderita baru. Jika tanpa gejala, imunisasi lengkap lakukan booster, Jika tanpa gejala, imunisasi tidak lengkap lakukan imunisasi dasar dan booster jika kultur positif obati dan gunakan eritromicyn untuk menekan circulating cdiphteria dan lakukan imunisasi setelah sembuh. 

Pencegahan dilakukan dengan menjaga kebersihan dan terus melakukan penyuluhan tentang bahaya defteri pada semua kelompok masyarakat, sedangkan secara khusus lakukan imunisasi DPT dan pengobatan carier, Terjadinya kejadian luar biasa atau outbreak disebabkan oleh rendahnya cakupan imunisasi, kualitas persediaan vaksin, dan pengetahuan masyarakat.

Waktu pelaksanaan sesuai dengan rumus 01 6 maka pelaksanaan pertama 0) bulan Desember 2017. pelaksanaan kedua (1) Bulan januari/Feb 2018 dan pelaksanaan ketiga (6) Bulan Juni/juli 2018 Tempat pelaksanaan di Puskesmas, Rumah sakit, posyandu, dan sekolah mulai dari SD, SMP, SMA, dan Kampus perguruan tinggi yang ada di Bekasi. 

Data sementara sasaran kota Bekasi untuk kegiatan ini adalah 1973.634 orang dengan pembagian usia 1 sd 5 tahun sebanyak 268,493 orang.5 sampai dengan 7 tahun 106,410 dan 7 sd 19 tahun sebanyak 598,731 orang.

Mari Kita sukseskan kegiatan immunisasi difteri dengan datang ketempat layanan imunisasi yang telah ditentukan dan gratis, dan mari kita Cegah Difteri, berikan hak sehat anak Bangsa Indonesia, tuturnya. (Chris) 

 

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Name *