Transparan  News
25 Mei 2018

Pasien Ditolak Rumah Sakit Akhirnya Meninggal

Saut Manullang

TransparaNews, BEKASI – Seorang pasien yang diduga menderita penyakit jantung Yuswita SP.d (67) warga Pondok Pekayon Indah Blok DD 18 A No.2, RT 03/15 akhirnya meninggal dunia pada Jumat, 25/5. korban yang juga mantan Wakepsek SMAN 6 Kota Bekasi itu ditolak berobat di salah satu rumah sakit Padahal korban dalam situasi darurat, kondisi pasien koma tak sadarkan diri, setelah terjatuh di kamar mandi.

“Kita langsung larikan ke RS Budi Lestari, karena menurut keluarganya pernah dirawat di RS tersebut. Pas dikabari dengan gerak cepat, bedug maghrib pisan, lg buka puasa kita langsung evakuasi,” ujar Jajang Qijoy, Pionir URC (Unit Reaksi Cepat) PKM Pekayon Jaya.

Kata Jajang, selain dicekam kepanikan karena pasien harus segera ditangani, pasien juga dijegal oleh pihak keamanan RS Budi Lestari dan terjadi perdebatan argumentasi

“Sudah telepon rumah sakit belum, telepon dokter belum, tunggu dulu jangan diturunin,” ujar sequriti ditirukan Jajang Qijoy

“Ini saya lagi bawa pasien darurat, sekarat, urjen, bagaimana telepon dokter, telepon RS, pasien cengap cengap, keburu pasien nggak tertolong,” lanjut Jajang

Sekuriti jaga pihak RS pun akhirnya menuju IGD untuk menemui perawat dan dokter yang tugas di IGD. Namun kata dia, alangkah terkejutnya saat dokter memberikan jawaban yang sama persis seperti sekuritinya. “Sudah hubungi rumah sakit ini belum, sudah telepon dokter belum,”sambung dokter IGD ketus.

“Dok, ini saya bawa pasien sekarat, sudah cengap cengap, keburu mati pasien saya, harusnya ditangani dulu, ambil tindakan dong, bukan tanya sudah konfirmasi rumah sakit belum, telepon belum,” tukas Jajang kesal.

Tak lama kemudian, dokter IGD menginstruksikan seorang perawat untuk check pasien yang masih di dalam mobil ambulance, karena dijegal diturunkan, tepat depan pintu masuk IGD. Perawat pun tanpa basa basi menyuruh pasien bawa ke rumah sakit lain.

“Jadi, intinya ini pasien DITOLAK oleh pihak RS Budi Lestari. Nggak mau nangani pasien darurat,” jelas Jajang kesal.

Melihat pasien dalam kondisi tidak stabil, tanpa pikir panjang, Jajang disaksikan relawan dan keluarga pasien, bergegas mengambil inisiatif melarikan pasien ke rumah sakit lain.

“Pasien akhirnya kita larikan ke RSUD, sampai di sana langsung ditangani. Nggak ditanya bertele tele, kalaupun ditanya sambil dokter perawat lakukan tindakan, bukan ngajak debat. Cakep pelayanan RSUD, tanggap dan sigap, karena melihat kondisi pasien. Pas masuk IGD, sekuritinya juga bantuin masukin pasien,” tutur Jajang

“Coba bayangkan kita bawa pasien dengan mobil ambulance pemerintah, plat merah saja ditolak, bagaimana pakai taksi on line, grab atau mobil lain, ini namanya penghinaan,” tukasnya.

Setelah mendapat perawatan 6 jam di IGD RSUD Kota Bekasi, pasien warga Pondok Pekayon Indah Blok DD 18 A No.2, RT 03/15 nyawanya tak bisa tertolong dan menghbuskan nafas terakhir pada Jumat, (25/5) pukul 01.20. WIB dan dikebumikan dikebumikan pasca sholat Jumat di TPU Malaka, Jakarta Timur (Chris)

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Name *