Transparan  News
14 September 2018

Sri Mulyani Akan Tindak Para Importir Yang Melakukan Kecurangan

Anto Baho

TransparanNews, JAKARTA – Kementerian Keuangan lewat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) akan menindak para importir yang selama ini melakukan kecurangan dalam melakukan impor.

Dirjen Bea dan Cukai Heru Pambudi mengatakan aturan baru tersebut tertuang dalam PMK Nomor 112 Tahun 2018 tentang Perubahan Atas PMK 182 Tahun 2016 tentang Ketentuan Impor Barang Kiriman.

“Jadi pemerintah mengeluarkan suatu kebijakan baru sebagai bagian dari kebijakan untuk mengendalikan defisit neraca perdagangan, yaitu terkait dengan threshold atau batasan dari pembebasan bea masuk dan pajak impor untuk barang kiriman,” kata Heru di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Jumat (14/9/2018).

Di aturan yang baru ini, batasan produk impor yang terbebas dari bea masuk dan pajak impor sebesar US$ 75 per bon atau invoice, angka tersebut menurun dari yang sebelumnya sebesar US$ 100. Aturan ini diteken tanggal 6 September 2018, diundangkan tanggal 10 September 2018 dan berlaku efektif 30 hari sejak tanggal diundangkan.

“Dasar US$ 75 adalah merupakan rekomendasi dari WCO (World Custom Organization). Jadi, WCO mengeluarkan rekomendasi kalau saya konversi itu setara dengan US$ 75,” jelas dia.

Dia mencatat, sebelum adanya beleid baru ini terdapat satu importir yang memanfaatkan celah aturan lama dengan memecah produk impor dalam agar terbebas bea masuk dan pajak impor.

Lebih lanjut Heru mengungkapkan bahwa ada importir yang dalam satu hari melakukan 400 kali impor yang dirata-ratakan nilainya per invoice-nya sekitar US$ 75, sehingga terbebas dari pengenaan bea masuk dan pajak impor.

Sebanyak 400 kegiatan impor tersebut berupa jam tangan, tas, baju, kacamata, dan sarung telepon genggam. Parahnya lagi impor dilakukan dari satu suplier di luar negeri dengan nilai US$ 20.300 dalam satu hari.

Dengan aturan yang baru, kata Heru, maka pembebasan bea masuk dan pajak impor hanya berlaku pada satu invoice dengan nilai US$ 75 atau di bawahnya dalam satu hari.

“Kalau seseorang dalam sehari melakukan tiga transaksi masing-masing US$ 50 yang pertama, US$ 20 yang kedua, dan kemudian US$ 100 yang ketiga maka yang hanya diberikan pembebasan bea masuk dan pajak impor adalah yang US$ 50 plus US$ 20, sedangkan yangg ketiga dikenakan tarif normal,” tutup dia. (Anwar)

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Name *