Transparan  News
7 November 2017

CBA , Temukan Kerugian Negara di Kemenko PMK

Saut Manullang

TransparanNews, JAKARTA – Lembaga Sosial Masyarakat(LSM) Center for Budget Analysis (CBA) mengungkapkan bahwa Kementerian Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) tahun 2016 memiliki anggaran untuk belanja barang sebesar Rp352.231.128.000, adapun yang berhasil direalisasikan senilai Rp220.820.320.422 atau setara 62,69 persen.

Dalam realisasi anggaran belanja barang tersebut, CBA mengatakan telah menemukan beberapa penyimpangan yang berpotensi merugikan negara.

“Contohnya, dalam program belanja untuk pengadaan obat klinik yang dianggarkan sebesar Rp. 180 juta. Kemenko PMK dalam laporannya uang ratusan juta tersebut diperuntukan bagi pembelian obat ke 5 apotik dengan rincian sebagai berikut:

1. Apotik MF dengan biaya sebesar Rp54.742.400 dengan bukti 6 kuitansi pembelian
2. Apotik SW dengan biaya sebesar Rp19.685.200 dengan bukti 2 kuitansi pembelian
3. Apotik DP II dengan biaya sebesar Rp19.888.650 dengan bukti 2 kuitansi pembelian
4. Apotik JB dengan biaya sebesar Rp9.993.750 dengan bukti 1 kuitansi pembelian
5. Apotik WM dengan biaya sebesar Rp75.689.400 dengan bukti 8 kuitansi pembelian

Namun rincian di atas setelah dilakukan penelusuran tidak dapat dibuktikan kebenarannya (palsu),” ungkap Koordinator Investigasi CBA, Jajang Nurjaman kepada Transparan News pagi ini (7/11).

“Ada 2 catatan dari Center for Budget Analysis terkait program pengadaan obat yang dilaksanakan Menko PMK tersebut. Pertama, proses pengadaan obat klinik dilaksanakan bukan oleh Pejabat Pengadaan sesuai ketentuan tentang pengadaan barang/jasa pemerintah. Diketahui program tersebut dijalankan oleh Kepala Subbagian Pengembangan dan Seleksi Bagian Kepegawaian dan Kearsipan (Kasubbag Pengembangan dan Seleksi) Kemenko PMK. Yang membuat miris, program ini dilaksanakan hanya bermodal instruksi lisan kepada bawahannya dan terlaksanalah program ratusan juta tersebut,” papar Jajang.

“Kedua, hal tersebut jelas menimbulkan masalah selanjutnya yakni dokumen pertanggungjawaban belanja pengadaan obat tidak valid alias asal-asalan. Bukti-bukti laporan pembelian seperti kuitansi, bon faktur sampai tanda tangan yang mengatasnamakan 5 apotik jelas-jelas palsu,” ujarnya.

Menurut Jajang, data yang diungkapnya merupakan “contoh kecil bagaimana bobroknya penggunaan uang negara di tubuh Menko PMK yang dipimpin Puan Maharani”.

“Berdasarkan temuan di atas, Center for Budget Analysis mendorong pihak berwajib khususnya KPK untuk lebih memperhatikan lagi program-program yang dilaksanakan Menko PMK, karena sampai saat ini seringkali luput dari perhatian,” tutupnya.(Saut)

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Name *