Transparan  News
8 Oktober 2018

Sutrisno Pangaribuan Minta Polda Sumut Selediki Kematian Suheri

Anto Baho

TransparaNews, LABUHANBATU – Terkait kejanggalan kematian Suheri, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Propinsi Sumatera Utara, Sutrisno Pangaribuan ST, angkat bicara. Kepada wartawan politisi PDI Perjuangan ini meminta Polisi harus memfasilitasi visum terhadap korban Suheri.

“Kepolisian harus memfasilitasi visum terhadap korban untuk memastikan penyebab kematian almarhum Suheri. Kita menganut azas praduga tidak bersalah, dimana seseorang yang diduga melakukan pelanggaran hukum hanya jika pengadilan telah memutuskan seseorang bersalah. Setiap tindakan menghukum seseorang tanpa proses pengadilan, itu merupakan pelanggaran hukum, main hakim sendiri. Maka semua aparat Polri yang terlibat dalam penanganan Alm. Suheri harus diperiksa oleh Propam Polri,” tegas Sutrisno saat dihubungi, Sabtu (6/10) malam.

Menurut Sutrisno, Polri harus menjunjung tinggi hukum dan hak azasi manusia, maka diminta atau tidak oleh keluarga, Polri harus berinisiatif untuk melakukan visum.

“Tidak seorang pun berhak mencabut nyawa seseorang kecuali keputusan pengadilan. Maka kematian tidak wajar dari seorang terduga pelaku tindak pidana, menjadi tanggung jawab aparat Polri yang melakukan penangkapan,” kata Sutrisno.

“Propam Polda Sumatera Utara diminta melakukan pemeriksaan terhadap oknum aparat Polri, yang terlibat dalam penanganan kasus ini, termasuk memeriksa pimpinan unit kerjanya,” tegasnya lagi.

Lebih lanjut kata Sutrisno, dalam upaya Polri melakukan penegakan hukum, maka dipastikan tidak boleh melakukan pelanggaran hukum.

“Tidak seorang pun berhak melakukan kekerasan dalam bentuk apapun di Negeri ini. Sekali lagi, sebagai wakil rakyat yang menjunjung tinggi hukum, maka saya meminta agar Polri melakukan visum (otopsi) terhadap mayat almarhum Suheri agar keluarga dan publik mendapat informasi yang jujur dan terbuka, terkait penyebab kematian korban,” beber politisi yang dikenal vokal ini.

Sutrisno menambahkan, seluruh upaya Polri untuk menjelaskan penyebab kematian korban tanpa melalui visum (otopsi), merupakan upaya Polri membangun opini dan memengaruhi persepsi publik, dan itu tindakan melawan hukum.

“Tindakan seperti itu diyakini sebagai upaya menutupi sesuatu yang tidak benar,” pungkas juru bicara Capres nomor urut 1 Jokowi Ma’ruf ini.

Kapolres Labuhan Batu AKBP Frido Situmorang SIK, saat dikonfirmasi terkait kematian Suheri, belum kunjung mendapatkan jawaban.

Sementara Kasat Res Narkoba Polres Labuhanbatu AKP I Kadek Heri Cahyadi mengatakan Suheri alias Eri ditangkap bersama rekannya Gunawan Jumat (5/10) sekitar pukul 22.00 wib, setelah adanya informasi dari masyarakat yang menyebutkan adanya peredaran narkoba jenis sabu-sabu.

Saat penangkapan sambungnya, personilnya berhasil menemukan barang bukti sebanyak 19 plastik sabu-sabu yang diantaranya ditemukan dari tersangka Gunawan alias JK dan dari sekitar rumah Eri.

Setelah diamankan keduanya dibawa ke Mapolres Labuhanbatu. Namun, saat diturunkan dari mobil di Mapolres Labuhan Batu, korban mengalami kejang-kejang.

Selanjutnya korban dilarikan ke RSUD Rantauprapat. Namun saat diperjalanan, nyawa korban tak terselamatkan dan menghembuskan nafas terakhirnya.

Saat ditanya apakah ada catatan medis yang diberikan dokter untuk memastikan penyebab kematian Eri, Kadek mengaku bahwa dokter tidak ada memberi rekam medis. (Red/MP/Sf)

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Name *