Transparan  News
9 September 2019

Muslim JB : Penilaian Sirajuddin Terkait Ketum Golkar Sangat Tendensius dan Berlebihan

soepianto

TransparanNews, JAKARTA – Wakil Ketua Badan Hukum dan HAM (Bakumham) Partai Golkar Muslim Jaya Butar-butar angkat bicara terkait penilaian politisi Golkar Sirajudin Abdul Wahab yang menyebut kepemimpinan Ketua Umum (Ketum) Airlangga Hartarto bersifat otoriter dan kekanak kanakan.

Dimana, Politikus Golkar Sirajuddin Abdul Wahab menilai Ketum Golkar Airlangga Hartarto menjalankan kepemimpinan dengan otoriter dan diskriminatif. Sirajuddin beranggapan, dengan pola kepemimpinan yang otoriter dan diskriminatif itu, Golkar telah menjadi partai yang minimalis. Hal itu dikatakan Sirajuddin dalam keterangan tertulisnya kepada wartawan belum lama ini. 

Jadi, menurut Muslim JB, bahwa pernyataan Sirajudin Abdul Wahab itu sangat tendensius, tidak pantas dan sangat berlebihan. “Justru sikap Sirajudin Abdul Wahab yang kekanakkanakan melakukan mosi tidak percaya dan menggalang petisi rakyat. Entah apa dalam pikirian Sirajudin Abdul Wahab melakukan tindakan inkonstitusional yang tidak diatur dalam AD/ART Partai Golkar. Tidak benar ada drama perebutan kantor DPP Partai Golkar, siapa yang melakukan drama, ngak ada perebutan kantor DPP Partai Golkar. Dan tidak ada juga pengerahan preman di DPP Partai Golkar. Yang ada kader AMPG yang melakukan fungsi fungsi pengkaderan dibawah kepemimpinan Ketum AMPG Ilham Permana dan Mustafa Raja selaku Sekjen AMPG dan Derek Laupaty selaku Ketua Organisasi dan Kaderisasi,” ucap Muslim JB menjelaskan kepada transparannews.com, Senin, (9/9) menanggapi pernyataan Sirajuddin.

Lanjut Wakil Ketua Bakumham ini menjelaskan, bahwa tidak ada Ketum Airlangga Hartarto melakukan kendali partai secara otoriter dan diskriminatif. “Ketum Airlangga Hartarto sangat obyektif untuk menilai kinerja pengurus dengan karya kekaryaan. Pernyataan sirajudin abdul wahab tidak benar dan berlebihan,” ujarnya.

Kata Muslim JB, seyogianya Sirajudin Abdul Wahab janganlah melakukan delusi dan kesimpulan kesimpulan yang berasal dari ketidak sukaan secara subyektif. “Mari kita gunakan akal sehat kita untuk menilai kepemimpinan Airlangga Hartarto yang selama 1,5 tahun mampu menempati peringkat kedua perolehan kursi DPR-RI. Meskipun ada penurunan kursi, kita harus objektif pemilu 2019 kemarin adalah pemilu yang kompleks. Untuk itu saya mengajak Sirajudin Abdul Wahab untuk menilai kepemimpinan Airlangga Hartarto secara obyektif tidak subyektifitas yang berlebihan,” tuturnya. (Anto)

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Name *